Dari Lahan Kakek di Dago: Kisah Kebun Senja
Lima puluh tahun, tiga generasi, dan satu rumah kaca. Wawancara sore bersama Aji Nugraha — penjual variegasi paling dicari di Rimba.

Jalan naik di kaki Dago berakhir di gerbang besi berkarat manis. Di baliknya: rumah kaca 12 × 6 meter yang berdesis pelan — kipasnya, kata Aji, sudah berputar sejak 1998.
"Nenek saya menanam melati di sini dulu," ujar Aji sambil menyiram bedengan pakis. "Ayah lanjut ke anggrek. Saya..." ia tertawa kecil, "...saya tersesat ke monstera."
Koleksi yang dipilih, bukan ditumpuk
Di Kebun Senja tidak ada rak tanaman yang diproduksi massal. Setiap indukan punya kartu catatan tangan: tanggal masuk, riwayat daun, karakter variegasi. "Kalau saya jual anakannya, saya harus tahu ibunya," katanya. "Itu saja intinya."
Tentang variegasi yang jujur
Kami bertanya soal tren tanaman variegasi yang melonjak harganya. Aji menjawab pelan: "Yang mahal itu bukan putihnya. Yang mahal itu stabilnya. Putih yang hilang di daun berikutnya cuma makeup."
5 stories
Tim redaksi Aroid Care — catatan lapangan, panduan perawatan, dan wawancara penanam dari seluruh nusantara.
Read next
Other stories you might enjoy.